SEKILAS INFO
14-11-2019
  • 2 bulan yang lalu / >>> STIKes YPIB Majalengka Tahun Akademik 2019/2020
  • 2 bulan yang lalu / >>> Selamat Datang Mahasiswa Baru Prodi S1 Keperawatan, S1 Farmasi, D3 Kebidanan, dan Profesi Ners STIKes YPIB Majalengka Tahun Akademik 2019/2020
5
Mar 2019
0
Paradigma Keperawatan Perlu Dipahami Para Calon Tenaga Perawat

Oleh : Heni, S.Kep., Ners., M.Kep

Secara umum atau universal, dapat diambil pengertian menurut Thomas Kunn (1939), paradigma adalah sebagai model, pola atau pandangan yang dilandasi pada dua karaktersitik, yaitu penampilan dari kelompok yang menunjukkan keberadaannya terhadap sesuatu yang diyakini dan terbuka untuk penyelesaian masalah dalam kelompoknya.
Berdasar pada paradigma secara umum, maka paradigma keperawatan adalah suatu cara pandang yang mendasar atau bagaimana cara melihat, memikirkan, memberi makna, menyikapi dan memilih tindakan terhadap berbagai fenomena yang ada dalam keperawatan, dapat berbentuk ilmu, teori, dan filosofi yang dapat diterima dan diterapkan dalam keperawatan. Paradigma keperawatan membentuk suatu susunan yang mengatur hubungan di antara teori tersebut guna mengembangkan model konseptual dan teori-teori keperawatan sebagai kerangka kerja keperawatan. Dengan demikian paradigma keperawatan memberi arah kepada perawat untuk menyelesaikan dan mencari jalan keluar pada suatu masalah yang dihadapinya.
Paradigma keperawatan menurut Masterman, 1970 adalah pandangan fundamental tentang persoalan dalam suatu cabang ilmu pengetahuan. Paradigma keperawatan menurut Gaffar, 1997, adalah cara pandang yang mendasar atau cara kita melihat, memikirkan, memberi makna, mmenyikapi dan memilih tindakan terhadap berbagai fenomena yang ada dalam keperawatan. Dengan demikian paradigma keperawatan berfungsi sebagai acuan atau dasar dalam melaksanakan praktek keperawatan yang bersifat professional.
Perawatan merupakan bagian dari sistem pelayanan kesehatan dan salah satu faktor yang memenuhi tercapainya pembangunan nasional, oleh karena itu tenaga keperawatan berada ditatanan pelayanan kesehatan terdepan dengan kontak pertama dan terlama dengan klien, yaitu selama 24 jam perhari dan 7 hari perminggu, maka perawat perlu mengetahui dan memahami tentang paradigma keperawatan, peran, fungsi dan tanggung jawab sebagai perawat profesional agar dapat memberikan pelayanan keperawatan yang optimal dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien. Perawat harus selalu memperhatikan keadaan secara individual dari segi bio, psiko, sosial, spiritual dan cultural.
Paradigma memiliki fungsi antara lain :
1. Menyikapi dan menyelesaikan berbagai persoalan yang melingkupi profesi keperawatan sebagai aspek pendidikan dan pelayanan kperawatan, praktik dan organisasi profesi.
2. Membantu individu dan masyarakat untuk memahami dunia keperawatan kita dan membantu kita untuk memahami setiap fenomena yang terjadi di sekitar kita.

Komponen-komponen dalam Paradigma Keperawatan
Dalam keperawatan ada empat komponen yang merupakan pola dasar dari teori-teori keperawatan atau paradigma keperawatan. Empat komponen tersebut meliputi : manusia, keperawatan, lingkungan, dan kesehatan.
1. Konsep Manusia
Manusia adalah makhluk bio – psiko – sosial dan spiritual yang utuh, dalam arti merupakan satu kesatuan utuh dari aspek jasmani dan rohani serta unik karena mempunyai berbagai macam kebutuhan sesuai tingkat perkembangannya (Konsorsium Ilmu Kesehatan, 1992).
Manusia adalah sistem yang terbuka senantiasa berinteraksi secara tetap dengan lingkungan eksternalnya serta senantiasa berusaha selalu menyeimbangkan keadaan internalnya (homeoatatis), (Kozier, 2000)
Manusia memiliki akal fikiran, perasaan, kesatuan jiwa dan raga, mampu beradaptasi dan merupakan kesatuan sistem yang saling berinteraksi, interelasi dan interdependensi (La Ode Jumadi, 1999 :40).
Jadi, konsep manusia menurut paradigma keperawatan adalah manusia sebagai sistem terbuka, sistem adaptif, personal dan interpersonal yang secara umum dapat dikatakan holistik atau utuh.
Sebagai sistem terbuka , manusia dapat mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungannya, baik lingkungan fisik, biologis, psikologis maupun sosial dan spiritual sehingga perubahan pada manusia akan selalu terjadi khususnya dalam pemenuhan kebutuhan dasarnya.
Sebagai sistem adaptif manusia akan merespon terhadap perubahan lingkungannya dan akan menunjukan respon yang adaptif maupun respon maladaptif. Respon adaptif akan terjadi apabila manusia tersebut mempunyai mekanisme koping yang baik menghadapi perubahan lingkungannya, tetapi apabila kemampuannya untuk merespon perubahan lingkungan yang terjadi rendah maka manusia akan menunjukan prilaku yang maladaptif .
Manusia atau klien dapat diartikan sebagai individu, keluarga ataupun masyarakat yang menerima asuhan keperawatan.
Peran perawat pada individu sebagai klien adalah memenuhi kebutuhan dasarnya mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurang kemauan menuju kemandirian pasien.
Peran perawat dalam membantu keluarga meningkatkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah kesehatan adalah perawat sebagai pendeteksi adanya masalah kesehatan, memberi asuhan kepada anggota keluarga yang sakit, koordinator pelayanan kesehatan keluarga, fasilitator, pendidik dan penasehat keluarga dalam masalah-masalah kesehatan.
Dalam memberikan asuhan keperawatan pada keluarga, perawat perlu memperhatikan sifat-sifat keluarga yaitu keluarga mempunyai reaksi dan cara yang unik dalam menghadapi masalahnya, pola komunikasi yang dianut, cara pengambilan keputusan, sikap, nilai, cita-cita keluarga dan gaya hidup keluarga yang berbeda -beda. Individu dalam keluarga mempunyai siklus tumbuh kembang .
Pelayanan kesehatan pada masyarakat ini dapat berbentuk pelayanan kepada masyarakat umum dan kelompok-kelompok masyarakat tertentu (Balita dan Lansia).
2. Konsep Keperawatan
Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan profesional sebagai bagian integral pelayanan kesehatan berbentuk pelayanan biologi, psikologi, sosial, spiritual dan kultural secara komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat sehat maupun sakit mencakup siklus hidup manusia.
Asuhan keperawatan diberikan karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, serta kurang kemauan meuju kepada kemampuan melaksanakan kegiatan sehari-hari secara mandiri. Sebagai suatu profesi, keperawatan memiliki falsafah yang bertujuan mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan.
Dalam hal ini, pertama, keperawatan menganut pandangan yang holistik terhadap manusia yaitu Ketuhanan Manusia sebagai makhluk bio – psiko – sosial – spiritual dan kultural. Kedua, kegiatan keperawatan dilakukan dengan pendekatan humanistik dalam arti menghargai dan menghormati martabat manusia memberi perhatian kepada klien serta menjunjung tinggi keadilan bagi semua manusia. Ketiga, keperawatan bersifat universal dalam arti tidak dibedakan atas ras, jenis kelamin, usia, warna kulit, etnik, agama, aliran politik dan status ekonomi sosial. Keempat, keperawatan adalah bagian integral dari pelayanan kesehatan serta kelima, bahwa keperawatan menganggap klien sebagai partner aktif dalam arti perawat selalu bekerja sama dengan klien dalam memberikan asuhan keperawatan.
3. Konsep Kesehatan
Sehat adalah suatu keadaan yang dinamis di mana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan lingkungan internal dan eksternal untuk memepertahankan keadaan kesehatannya. Adapun faktor lingkungan internal yang mempengaruhi adalah psikologis, dimensi intelektual dan spiritual dan proses penyakit. Faktor-faktor lingkungan eksternal adalah faktor-faktor yang berada di luar individu yang mungkin mempengaruhi kesehatan antara lain variabel lingkungan fisik, hubungan sosial dan ekonomi.
Salah satu ukuran yang dipakai untuk mengukur tingkat atau status kesehatan adalah rentang sehat sakit. Rentang sehat sakit merupakan skala hipotesa yang berjenjang untuk mengukur keadaan seseorang. Tingkat sehat seseorang berada pada skala yang bersifat dinamis, individualis, dan tergantung pada faktor-faktor yang mempengaruhi kesehatan. Menurut model ini, keadaaan sehat selalu berubah secara konstan, di mana rentang sehat sakit berada di antara dua kutub yaitu sehat optimal dan kematian. Apabila status kesehatan kita bergerak kearah kematian kita berada dalam area sakit (illness area), tetapi apabila status kesehatan kita bergerak ke arah sehat maka kita berada dalam area sehat (wellness area).
4. Konsep Lingkungan
Lingkungan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah daerah (kawasan dan sebagainya) yang termasuk di dalamnya. Lingkungan adalah faktor eksternal yang berpengaruh terhadap perkembangan menusia dan mencakup antara lain lingkungan sosial, status ekonomi dan kesehatan. Fokus Lingkungan yaitu lingkungan fisik, psikologi, sosial, budaya dan spiritual.
Lingkungan dalam terdiri dari :
a. Lingkungan fisik (Physical Enviroment)
Merupakan lingkungan dasar / alami yang berhubungan dengan ventilasi dan udara. Faktor tersebut mempunyai efek terhadap lingkungan fisik yang bersih yang selalu akan mempengaruhi pasien di manapun dia berada di dalam ruangan harus bebas dari debu, asap, bau-bauan. Tempat tidur pasien harus bersih, ruangan hangat, udara bersih, tidak lembab, bebas dari bau-bauan. Lingkungan dibuat sedemikian rupa sehingga memudahkan perawatan baik bagi orang lain maupun dirinya sendiri. Luas, tinggi penempatan tempat tidur harus memberikan memberikan keleluasaan pasien untuk beraktifitas. Tempat tidur harus mendapatkan penerangan yang cukup, jauh dari kebisingan dan bau limbah. Posisi pasien di tempat tidur harus diatur sedemikian rupa supaya mendapat ventilasi.
b. Lingkungan psikologi (Psychologi Enviroment)
Nightingale melihat bahwa kondisi lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fisik dan berpengaruh buruk terhadap emosi pasien. Oleh karena itu ditekankan kepada pasien menjaga rangsangan fisiknya. Mendapatkan sinar matahari, makanan yang menarik dan aktivitas manual dapat merangsanag semua faktor untuk membantu pasien dalam mempertahankan emosinya. Komunikasi dengan pasien dipandang dalam suatu konteks lingkungan secara menyeluruh, komunikasi jangan dilakukan secara terburu-buru atau terputus-putus. Komunikasi tentang pasien yang dilakukan dokter dan keluarganya sebaiknya dilakukan di lingkungan pasien dan kurang baik bila dilakukan di luar lingkungan pasien atau jauh dari pendengaran pasien. Tidak boleh memberikan harapan yang terlalu muluk, menasehati yang berlebihan tentang kondisi penyakitnya. Selain itu membicarkan kondisi-kondisi lingkungan di mana dia berada atau cerita hal-hal yang menyenangkan dan para pengunjung yang baik dapat memberikan rasa nyaman.
c. Lingkungan sosial (Social Environment)
Observasi dari lingkungan sosial terutama hubungan yang spesifik, kumpulan data-data yang spesifik dihubungkan dengan keadaan penyakit, sangat penting untuk pencegahan penyakit. Dengan demikian setiap perawat harus menggunakan kemampuan observasi dalam hubungan dengan kasus-kasus secara spesifik lebih dari sekedar data-data yang ditunjukkan pasien pada umumnya. Seperti juga hubungan komuniti dengan lingkungan sosial dugaannya selalu dibicarakan dalam hubungna individu paien yaitu lingkungan pasien secara menyeluruh tidak hanya meliputi lingkungan rumah atau lingkungan rumah sakit tetapi juga keseluruhan komunitas yang berpengaruh terhadap lingkungan secara khusus.
d. Lingkungan luar (kultur, adat, struktur masyarakat, status sosial, udara, suara, pendidikan, pekerjaan dan sosial ekonomi budaya).
Lingkungan dengan kesehatan sangat berpengaruh karena dengan cara terapi lingkungan dapat membantu perawat dalam menjaga pola pertahanan tubuh terhadap penyakit untuk meningkatkan pola interaksi yang sehat dengan klien.
Lingkungan dengan timbulnya penyakit yaitu apabila lingkungan kita kotor dan tidak bersih maka akan berpotensi sekali untuk terciptanya banyak penyakit-penyakit.

Paradigma Komponen Teori Kesehatan Menurut Para Ahli
• Florence Nightingale(1895)
Keperawatan adalah suatu proses menempatkan pasien dalam kondisi paling baik untuk beraktivitas.
• Hildegrad Peplau (1909)
Keperawatan adalah proses interpersonal karena melibatkan interaksi antara dua atau lebih individu dengan tujuan bersama.
• Dorothea Orem (Self Care Theory, 1985)
Pelayanan yang bersifat manusiawi yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan manusia untuk merawat diri, kesembuhan dari penyakit atau cedera dan penanggulangan komplikasinya sehingga dapat meningkat derajat kesehatannya.
• Virginia Henderson (Fourteen Basic needs, 1960)
Fungsi yang unik dari perawat adalah membantu individu sehat ataupun sakit untuk menggunakan kekuatan, keinginan dan pengetahuan yang dimilikinya sehingga individu tersebut mampu melaksanakan aktivitas sehari- harinya, sembuh dari penyakit atau meninggal dengan tenang.

Hubungan Antara Metaparadigma dengan Teori Keperawatan
• The empirical paradigm is rooted in the assumption that there is one reality, which can be verified through the senses (Monti & Tingen, 1999). Within this paradigm, knowledge is established by controlling the circumstances around variables, in order to determine their relationship (Monti & Tingen, 1999).
Paradigma berakar dari sebuah asumsi bahwa terdapat sebuah realitas/kenyataan, yang mana dapat diverifikasi melalui indera. Dalam paradigma ini, pengetahuan didirikan dengan mengontrol keadaan di sekitar variabel untuk menentukan hubungannya.
Seperti kita tahu, dalam paradigma keperawatan terdapat 4 variabel. Dalam penjelasan di atas, pengetahuan (atau mungkin dalam hal ini adalah teori) dapat didirikan/diteliti dengan mengontrol keadaan (mengontrol parameter) salah satu variabel paradigma keperawatan, sehingga akan lebih jelas hubungannya dengan yang lain.
• The empirical paradigm contributes to nursing research as it facilitates the development and testing of hypotheses, comparison of interventions, and the establishment of relationships between variables (Monti & Tingen, 1999).
Paradigma berkontribusi pada penelitian keperawatan yang mana paradigma ini memfasilitasi perkembangan dan pengujian hipotesis, membandingkan intervensi dan mendirikan hubungan antara variabel.
Di sini jelas yang pertama dikatakan adalah bahwa paradigma berkontribusi pada penelitian keperawatan. Penelitian penting bagi sebuah Ilmu Pengetahuan untuk terus berkembang. Seperti sebuah alat transportasi yang terus berkembang dan maju, ilmu Keperawatanpun dapat terus berkembang dan semakin maju. Sehingga bagi kita yang ingin melakukan penelitian keperawatan, kita bisa mencari ide melalui Paradigma Keperawatan. Bahkan lebih lanjut dikatakan paradigma keperawatn dapat menjadi tempat pengujian hipotesis, berkaitan hubungannya dengan variabel lain.
• It is possible to predict the type of theories that can be developed from each nursing paradigm, based on the worldview that each paradigm presents. The empirical paradigm gives rise to a variety of theories within nursing.
Dimungkinkan untuk memprediksi tipe teori yang dapat dikembangkan dari setiap paradigma keperawatan, berdasar pandangan dunia terhadap kehadiran paradigma tersebut.
Teori-teori keperawatan baru yang muncul ternyata dapat diprediksi melalui paradigma keperawatan. Dapat kita maknai sebagai arahan/pandangan ke mana teori itu akan mengarah. Karena paradigma keperawatan memberikan pandangan atau arahan kemanakah keperawatan itu akan mengarah, maka paradigma keperawatan ibarat sebuah petunjuk arah yang diberikan seseorang, misalnya bagaimana bepergian ke Surabaya dari Jakarta menggunakan bis. Kita diberitahu untuk megambil bis malam langsung ke Surabaya kemudian turun di Terminal Bungurasih. Orang tersebut mengatakan perjalanan ini akan memakan waktu lebih kurang 20 jam. Jadi seperti inilah mungkin pandangan yang diberikan Paradigma Keperawatan terhadap Teori Keperawatan. Paradigma tidak memberikan kepastian namun memberikan arahan kepada teori baru.

DAFTAR PUSTAKA:
Heni, S.Kep., Ners., M.Kep, Idris Handriana, S.Kep., Ners., M.Kep. 2017. Falsafah Keperawatan, Lovrinz Publishing : Cirebon

Kusnanto. 2004. Pengantar Praktik dan Profesi Keperawatan Profesional. Jakarta: EGC.

Potter dan Perry. 2006. Fundamental Keperawatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran ECG.

Smith, Mary Jane & Liehr, Patricia R. 2008. Middle range theory for nursing. 2nd ed. New York: Springer Publishing Company.

Soemowinoto, S. Pengantar Filsafat Ilmu Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

 

Susunan Dewan Redaksi

error: Semua konten kami mempunyai hak kebijakan privasi, hubungi admin atau dosen bersangkutan. Hatur Nuhun