SEKILAS INFO
23-07-2019
  • 2 bulan yang lalu / SELAMAT >> Melaksanakan Ujian Akhir Semester (UAS) Tahun Akademik 2018/2019, untuk semua Mahasiswa STIKes YPIB Majalengka
  • 2 bulan yang lalu / Selamat Menjalankan Ibadah Puasa Ramadhan 1440 H
  • 2 bulan yang lalu / INFORMASI : Pendaftaran Mahasiswa Baru Masih Dibuka, Sekarang Masuk Gelombang 2
12
Mar 2019
0
SEJARAH KELUARGA BERENCANA DI DUNIA INTERNASIONAL DAN DI INDONESIA

Oleh : Merlly Amalia, SST, M.Kes

Perkembangan Keluarga Berencana di Dunia

Dalam sejarah peradaban manusia, keluarga dikenal sebagai suatu persekutuan terkecil, pertama dan utama dalam masyarakat. Dari persekutuan inilah manusia berkembang biak menjadi suatu komunitas masyarakat dalam wujud marga, kabilah dan suku yang seterusnya menjadi umat dan bangsa-bangsa yang bertebaran di muka bumi. Keluarga adalah inti dari suatu bangsa. Kemajuan dan keterbelakangan suatu bangsa menjadi cermin dari keadaan keluarga-keluarga yang hidup pada bangsa tersebut.

Manusia diperkirakan hidup di dunia sudah sekitar dua juta tahun yang lalu. Pada waktu itu jumlahnya masih sangat sedikit. Bahkan pada 10.000 tahun sebelum masehi, penduduk dunia diperkirakan baru sekitar 5 juta jiwa. Namun demikian, pada tahun pertama setelah masehi, jumlah penduduk dunia telah berkembang hampir mencapai 250 juta jiwa. Dari tahun pertama setelah masehi, sampai kepada masa permulaan revolusi industri di sekitar tahun 1750, populasi dunia telah meningkat dua kali lipat menjadi 728 juta jiwa. Selama 200 tahun berikutnya (1750 – 1950) tambahan penduduk sebanyak 1,7 milyar jiwa. Tetapi dalam 25 tahun berikutnya (1950 – 1975), ditambah lagi dengan 1,5 milyar jiwa, yang jika dijumlahkan seluruhnya pada akhir tahun 1975 telah mencapai hampir 4 milyar jiwa. Pada tahun 1986, populasi dunia sudah mendekati angka 5 milyar, yang diperingati secara simbolis dengan kelahiran salah satu bayi di negara Yugoslavia tepat pada tanggal 11 Juli 1987. Pada tahun 2005 jumlah penduduk dunia sudah mencapai angka 6,45 milyar (Duran, 1967, Todaro 1983, UN, 2001 dan 2005).

Cikal bakal lahirnya Keluarga Berencana di dunia tidak terlepas dari adanya kekhawatiran akan terjadinya ledakan penduduk. Dengan demikian, adanya pendapat yang menyatakan bahwa Keluarga Berencana adalah suatu hal yang baru adalah tidak benar, sebab Keluarga Berencana sudah ada sejak jaman dahulu walaupun di Indonesia kehadirannya dianggap masih baru dibandingkan dengan negara-negara Barat. Di negara-negara Barat, sudah ada usaha-usaha untuk mencegah kelangsungan hidup seorang bayi/anak yang karena tidak diinginkan, atau pencegahan kelahiran/kehamilan karena alasan-alasan ekonomi, sosial dan lain-lain.

Sebelum ada teknologi modern seperti saat ini, terdapat beberapa cara yang dilakukan manusia untuk menolak anak yang tidak diinginkan. Pada zaman dahulu cara-cara untuk menolak anak yang tidak diiinginkan ada 3 cara yaitu :

Pertama, dengan membunuh anak yang sudah lahir. Cara yang demikian ini adalah paling kuno dan paling biadab, karena orang membunuh anaknya sendiri. Latar belakang orang mau melakukan pembunuhan hidup-hidup terhadap anak sendiri adalah untuk menutup malu, tekanan ekonomi, kepentingan lain (mengambil yang diperlukan dan membuang yang tidak perlu). Negara-negara yang mengalami peristiwa ini antara lain Yunani Kuno, Arab Jahiliah, Tiongkok Kuno dan Mesir Kuno.

Kedua, dengan cara pengguguran kandungan (abortus provacatus). Cara ini lebih lunak bila dibandingkan dengan cara membunuh anak yang sudah lahir. Namun cara ini banyak mengakibatkan ibu-ibu yang melakukan pengguguran kandungan juga ikut mati, karena menjadi korban dari perbuatan yang dilakukan. Cara yang dipergunakan untuk menggugurkan kandungan yaitu dengan jalan meminum ramuan atau dengan jalan dipijat oleh seorang dukun. Karena perkembangan zaman dan juga karena ditentang agama atau adat maka kedua cara tersebut di atas sudah ditinggalkan orang dan merupakan suatu perbuatan yang dilarang.

Ketiga, dengan cara mencegah atau mengatur kehamilan. Dalam mencegah dan mengatur kehamilan ini dengan menggunakan alat. Ada dua cara yang dilakukan orang untuk mencegah dan mengatur terjadinya kehamilan yaitu dengan alat kontrasepsi, dan tanpa alat, misalnya dengan azal, pantang berkala. Usaha ketiga ini yang banyak dilakukan orang sampai sekarang, yaitu dengan cara mencegah atau mengatur kehamilan.

  1. Keluarga Berencana di Inggris

Keluarga Berencana mula-mula timbul dari kelompok orang-orang yang menaruh perhatian kepada masalah KB, yaitu pada awal abad XIX di Inggris, Keluarga Berencana mulai dibicarakan orang.

Pada masa abad XIX sebagian besar kaum pekerja buruh di kota-kota besar di Inggris mengalami kesulitan dan keadaan hidupnya sangat buruk. Mereka sangat kekurangan, miskin dan melarat. Hal ini sebagai akibat dari adanya undang-undang perburuhan yang belum sempurna, jaminan sosial buruh tidak mendapatkan perhatian dan jam kerja buruh tidak dibatasi, sehingga hal ini menambah keadaan keluarga buruh sangat menderita.

Di samping itu yang sangat menyolok adanya waktu untuk istirahat dan rekreasi atau hiburan para buruh sama sekali hampir tidak ada. Salah satu hiburannya di waktu istirahat di rumah hanyalah bertemu keluarganya. Dengan kata lain bahwa hiburan para buruh ketika itu satu-satunya hanyalah dengan istri.

Keadaan keluarga kaum pekerja buruh seperti di atas banyak dijumpai oleh seorang yang bernama Marie Stoppes. Marie Stoppes banyak mengetahui keadaan keluarga kaum buruh di Inggris itu karena ia seorang bidan di Inggris dan pekerjaannya mengadakan kunjungan-kunjungan rumah keluarga untuk buruh-buruh, sehingga ia benar-benar mengetahui dan mengalami sendiri keadaan keluarga yang sangat menyedihkan itu ditambah lagi banyak anak.

Melihat kenyataan ini timbullah ide dari Maria Stoppes untuk memperbaiki keadaan keluarga-keluarga buruh tersebut. Salah satu jalan yang ditempuh memberikan pertolongan pada keluarga. Stoppes yang hidup pada kurun 1880 – 1950 merasa prihatin dengan kehidupan kaum buruh di Inggris saat itu. kehidupan kaum buruh di Inggris kala itu sungguh jauh dari standar layak.

Sungguh menyedihkan, selain kemiskinan, mereka pun memiliki banyak anak. Itu yang dilihat oleh Marie Stoppes yang juga seorang bidan. Keprihatinan Stoppes membuahkan pemikiran bahwa salah satu jalan yang bisa memperbaiki keadaan dan kehidupan para buruh tersebut adalah dengan melakukan pengaturan kelahiran. Saat itu di Inggris sudah dikenal pemakaian kondom. Selain itu, Stoppes juga memberikan pengetahuan kepada para buruh tersebut tentang cara pantang berkala.

  1. Keluarga Berencana di Amerika Serikat

Adalah Margareth Sanger, seorang juru rawat di Amerika yang pertama kali menggagas program pengendalian penduduk. Margareth yang hidup antara rentang waktu 1883-1966 mencanangkan program Birth Control. Pada tahun 1912, Margareth bertemu dengan sebuah kasus menghadapi seorang ibu muda yang berusia 20 tahun bernama Saddie Sachs. Saddie adalah seorang yang sengaja menggugurkan kandungannya karena dia tidak menginginkan anak lagi.

Karena adanya perasaan putus asa dalam merasakan derita pahit getirnya kehidupan dan juga ketidak tahuannya, Saddie Sachs telah nekad melakukan pengguguran kandungannya dengan paksa, sehingga ia harus dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Atas perawatan dokter dan juru rawat (termasuk Margareth Sanger), maka Saddie Sachs sembuh, dan dokter menganjurkan supaya ia jangan hamil lagi, sebab bila hamil lagi akan membahayakan jiwanya. Mendengar nasehat dokter yang demikian itu Saddie Sachs menjadi bingung apa yang harus dilakukan, padahal ia sudah tidak ingin hamil lagi.

Suatu ketika Saddie Sachs memberanikan diri bertanya kepada dokter yang merawatnya mengenai bagaimana caranya agar supaya ia tidak hamil lagi. Dengan nada sendau gurau dokter menjawab bahwa Jack Sachs (suami Saddie) disuruh tidur di atas atap. Mendengar jawaban dari dokter tersebut ia merasa tidak puas, dan ia bertanya kepada Margareth Sanger, tetapi sayang Margareth Sanger tidak dapat memenuhi permintaan serupa itu selain hanya menghibur saja, karena memang ia sendiri tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Tiga bulan kemudian suami Saddie Sachs memanggil Margareth Sanger karena istrinya sakit kembali dan dalam keadaan yang sangat kritis. Ternyata penderitaan Saddie Sachs seperti yang lalu bahkan lebih berat lagi, sehingga sebelum dokter datang menolong, ia meninggal dunia di atas pangkuan Margareth Sanger sebagai akibat pengguguran kandungan yang disengaja ia lakukan sendiri secara nekad.

Dengan rasa sedih dan kecewa Margareth Sanger menyampaikan kata-kata kepada beberapa dokter yang sempat ia kumpulkan, lebih kurang demikian : “Wahai para dokter yang budiman, lihatlah dengan penuh perhatian apa yang ada di pangkuan ini. Ia adalah seorang ibu, seorang istri yang sah dari seorang suami. Ia telah menjadi korban dari ketidak mengertian dari pihak suami maupun dari pihak orang-orang yang lebih mengerti terutama anda sekalian para dokter. Sebagai ibu mustahil ia akan melakukan perbuatan nekat yang membahayakan jiwanya, apabila tidak dilandasi oleh suatu motif yang kuat. Motif tersebut ialah ia tidak menghendaki suatu kehamilan atau kelahiran yang ia tidak ingini. Hal ini telah ia kemukakan pada waktu persalinan terdahulu, sebagai seorang manusia, ia berhak untuk mengatur sedemikian rupa. Namun ketidak acuhan dan ketidak mengertianlah akhirnya merenggut jiwanya. Marilah, wahai para dokter, berbuatlah sesuatu sejak saat ini belajar dari pengalaman yang pahit ini”.

Sejak peristiwa tersebut ia bergerak hatinya untuk lebih giat memperjuangkan cita-citanya dibidang emansipasi wanita khususnya di sektor pengaturan kehamilan. Dari pengalaman-nya sebagai juru rawat, Margaret Sanger cukup mengetahui kebutuhan  ibu-ibu untuk tidak memiliki anak banyak karena alasan ekonomi, kesehatan dan sosial.

Terkadang, ibu-ibu yang dia hadapi tersebut putus asa dan kemudian menemui ajalnya sebagai akibat aborsi yang dilakukan mereka. Dari pengalamannya tersebut, kemudian ia terjun dalam gerakan Birth Control di Amerika.

Program Birth Control yang digagasnya banyak mengalami tentangan dari beberapa pihak. Namun Margareth tetap gigih dan tidak putus asa. Ia mengajak para dokter dan juga bidan untuk bergabung dalam pergerakan tersebut. Ia pun kemudian belajar ke eropa mengenai alat kontrasepsi, dan menerbitkan sebuah buku berjudul “Family Limitation”. Penerbitan buku tersebut mendapat tentangan dari berbagai kalangan. Margareth kemudian ditangkap (meskipun akhirnya dibebaskan kembali) setelah menerbitkan buku tersebut.

Margareth Sanger terus memperjuangkan program Birth control di Amerika. Dia membuka klinik birth control pertama disana. Hal ini mendapat tentangan dari tokoh-tokoh setempat. Namun Margareth tidak putus asa. Meskipun dia ditangkap beberapa kali, Margareth terus berjuang. Hingga akhirnya perjuangan Margareth mulai menampakkan hasil.

Pada tahun 1921, kongres nasional pengaturan kelahiran pertama akhirnya diselenggarakan di Amerika. Hasilnya dibentuklah American Birth Control League. Dan Margareth Sanger diangkat sebagai ketuanya. Selanjutnya pada tahun 1923 mulai dibuka biro klinik pengaturan kelahiran. Hal ini membuka jalan terhadap pembukaan ratusan klinik sejenis di Amerika.

Margareth Sanger tidak membatasi perjuangan di dalam Birth Control di America saja, tetapi ia mengembangkan dan mengorbankan gagasannya dengan terus menerus ke seluruh dunia. Di samping keberaniannya yang luar biasa sebagai pembaharuan sosial, ia mempunyai pandangan jauh ke depan dan kemampuan mengorganisasi yang besar. Terbukti ia mengorganisasikan konferensi internasional pada tahun 1925 di New York yang menghasilkan pembentukan International Federation of Birth Control Leagues. Atas inisiatifnya juga mengadakan World Population Conference di Jenewa pada tahun 1927. Dari konferensi yang bersejarah ini timbul dua organisasi keilmuan, yaitu; International Women for Scientific Study for Population dan International Medical Group for the Investigation of Contraception.

Pada tahun 1948 ia turut aktif di dalam pembentukan International Committee on Planned Parenthood. Sebagai kelanjutannya di dalam konferensi di New Delhi dalam tahun 1952 diresmikan berdirinya International Planned Parenthood Federation (IPPF) di bawah pimpinan Margareth Sanger dan Lady Rama Rau dari India.

Margareth Sanger terus berusaha mencapai tujuan dan melanjutkan ide-idenya. Ia selalu mengajak rekan-rekannya yang berada di dalam negerinya sendiri dari dari para bidan-bidan sampai dokter yang sesuai dengan usaha-usahanya itu. Sehingga dari hasil kerja sama itu, usaha Margareth Sanger berkembang terus sampai ke seluruh dunia termasuk di Indonesia.

Sejarah KB di Indonesia

Gerakan Keluarga Berencana (KB) yang kita kenal sekarang ini dipelopori oleh beberapa tokoh, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pada awal abad ke-19 di Inggris upaya KB mula-mula timbul atas prakarsa sekelompok orang yang menaruh perhatian pada masalah kesehatan ibu. Maria Stopes (1880-1950) menganjurkan pengaturan kehamilan di kalangan kaum buruh di Inggris. di Amerika Serikat dikenal Margareth Sanger (1883-1996) dengan program birth control-nya yang merupakan pelopor kelompok keluarga berencana modern. Pada 1917 didirikan National Birth Control league dan pada November 1921 diadakan Konferensi Nasional Amerika tentang pengontrolan kehamilan dengan Margareth Sanger sebagai ketuanya.

Pada tahun 1948 Margareth Sanger ikut memelopori pembentukan komite internasional keluarga berencana dalam konferensi di New Delhi pada 1952 dengan meresmikan berdirinya Internasional Planned Parenhood Federation (IPPF). Federasi ini memilih Margareth Sanger dan Rama Ran dari india sebagai pimpinannya. Sejak saat itulah berdirilah perkumpulan-perkumpulan keluarga berencana di seluruh dunia, termasuk di Indonesia yang mendirikan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI).

Sebelum PKBI didirikan di Indonesia, sudah banyak usaha-usaha yang dilakukan untuk membatasi kelahiran secara individual. Di antara pelopor keluarga berencana itu adalah Dr. Sulianti Saroso dari Yogyakarta, pada tahun 1952. Beliau menganjurkan para ibu membatasi kelahiran mengingat angka kematian bayi yang cukup tinggi. Banyak tantangan dihadapi oleh Dr. Sulianti Saroso, antara lain gabungan organisasi wanita Yogyakarta, bahkan juga dari pemerintah waktu itu.

Di Jakarta, perintisan dimulai di bagian kebidanan dan kandungan FKUI/RSUP (sekarang rumah sakit Dr.cipto Mangunkusumo) oleh tokoh-tokoh seperti profesor Sarwono Prawiroharjo, Dr. M. Joedono, dr. Hanifa wiknjosastro, Dr. Koen. S Martiono, Dr. R. Soeharto, dan Dr. Hurustiati Subandri. Pelayanan keluarga berencana dilakukan secara diam-diam di poliklinik kebidanan FKUI/RSUP. Setelah mengadakan hubungan dengan IPPF serta mendapatkan dukungan dari para pelopor keluarga berencana setempat, pada 23 desember 1957 Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI), dilibatkan pula tokoh-tokoh non medis seperti Nani Suwondo,SH., Ny. Sjamsuridjal dan lain-lain. PKBI memperjuangkan terwujudnya keluarga sejahtera melalui tiga macam usaha, yaitu :

  1. Mengatur kehamilan atau menjarangkan kehamilan
  2. Mengobati kemandulan, serta
  3. Memberi nasihat perkawinan.

Kegiatan penerangan pelayanan masih dilakukan secara terbatas, hal ini mengingat masih banyaknya kesulitan dan hambatan terutama KUHP pasal 283 yang melarang menyebarluaskan gagasan keluarga berencana.

Pada Januari 1967 diadakan simposium kontrasepsi di Bandung dan dengan demikian berita mengenai kontrasepsi diikuti oleh masyarakat luas melalui media massa. Pada Februari 1967 diadakan kongres PKBI pertama antara lain mengharapkan agar keluarga berencana sebagai program pemerintah segera dilaksanakan. Pernyataan PKBI ini sangat tepat pada waktunya, karena tahun 1967 ini Presiden Soeharto menandatangani deklarasi kependudukan sedunia bersama 30 kepala negara lainnya. Pada bulan April 1967 Gebernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, menganggap sudah waktunya kegiatan KB dijalankan secara resmi di Jakarta dengan menyelenggarakan proyek keluarga berencana DKI Jakarta Raya.

Berdirinya Lembaga Keluarga Berencana Nasional (LKBN) pada november 1968 yang dalam menjalankan tugasnya diawasi dan dibimbing oleh Menteri Negara Kesejahteraan Rakyat, merupakan kristalisasi dan kesungguhan pemerintah dalam kebijakan keluarga berencana.

Selanjutnya peristiwa-peristiwa bersejarah dalam perkembangan Keluarga Berencana di Indonesia adalah masuknya program KB itu ke dalam Repelita I dan berdirinya Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN) melalui keputusan presiden RI nomor 8 tahun 1970, menggantikan LKBN, struktur BKKBN yang merupakan badan koordinasi dan bukan merupakan bagian dari departemen kesehatan memberikan kuntungan tersendiri. Struktur ini memungkinkan program melepaskan diri dari pendekatan klinik yang jangkauannya terbatas. Wadah ini memungkinkan pula peranan pakar non medis dalam menyukseskan program KB di Indonesia melalui pendekatan kemasyarakatan. Organisasi BKKBN terus dikembangkan dan disempurnakan melalui kongres presiden RI No.33 Tahun 1972, No 38 tahun 1978 dan No. 64 Tahun 1983.

Perluasan dan pengembangan program keluarga berencana nasional secara bertahap dilakukan melalui kegiatan penelitian dan pengembangan. Dukungan lain terhadap keberhasilan program keluarga berencana nasional adalah dengan meningkatnya daya guna dan hasil guna dari unsur-unsur penunjang program dengan memberikan kontribusi yang saling mengisi sesuai dengan fungsinya masing-masing.

Keberhasilan program ini dapat dicapai dengan komitmen politis yang tinggi dari pemerintah dan keuletan serta kesungguhan para unit pelaksana, partisipasi dan institusi masyarakat serta anggota masyarakat.

 

Susunan Dewan Redaksi

Video Profil

STIKes YPIB Majalengka

Terakreditasi B

NPSN : -

Jl. Gerakan Koperasi No. 003
KEC. Majalengka Wetan
KAB. Majalengka
PROV. Jawa Barat
KODE POS 45411
error: Semua konten kami mempunyai hak kebijakan privasi, hubungi admin atau dosen bersangkutan. Hatur Nuhun